Mbonek #1

Catatan Kecil Saat Mbonek #1

Di kalangan pendukung persebaya atau sering disebut bonek, ada satu quote yang sering diucapkan, ”Lek aku Bone, kon kate lapo?”. Yang artinya, ”Kalau aku Bonek, kau mau apa?”. biasanya diucapkan untuk menantang orang-orang yang memusuhi mereka atau memiliki pandangan negatif tentang seorang bonek, wajar bila melihat sentimen yang berkembang di masyarakat. Aku lahir dan besar di Surabaya, dan otomatis sangat menggilai tim sepakbola Persebaya. Apakah aku bonek? Aku sejak kecil hanya menonton Persebaya dari layar kaca. Menonton langsung di stadion malah setelah lulus STM dan bekerja. Sentimen yang berkembang di masyarakat bahwa bonek itu urakan, keras dan suka berkelahi membuatku saat kecil dilarang menonton di stadion secara langsung. Saat pertama kali menonton langsung di stadion, rasanya luar biasa. Bergabung diantara penonton yang serba hijau sambil berjingkrakan, menari dan menyanyikan chant-chant dukungan mengikuti iringan dirijen dan musik drum rasanya menyenangkan. Ikut mengumpat ketika gawang kebobolan atau ketika peluang gagal dan ikut bersorak gembira ketika pemain Persebaya mencetak gol.

Bagaimanapun, sampai sekarang karena kesibukan bekerja (ceileh… padahal cuma buruh pabrik), intensitas menonton langsung di stadion hanya beberapa kali. Ikut dalam tur luar kota saat Persebaya bermain tandang juga belum pernah. Temenku yang bonek asli (baca: selalu menonton di stadion, ikut tur luar kota dan bahkan terjun langsung saat berkelahi dan melempar-lempar batu dengan suporter musuh) pasti kecewa dan mengejek aku bila tahu hal ini. Haha. Mungkin. Dari dialah, aku tahu banyak cerita-cerita seru dan pengalamannya saat jadi bonek. Cerita temannya yang dipukuli suporter musuh, merencanakan balas dendam saat arak-arakan suporter musuh lewat, cerita tentang temannya yang ditangkap polisi dan dipenjara karena terbukti menusuk suporter musuh sampai tewas di kereta api, isu bagaimana temannya dihajar sipir karena pesanan keluarga korban, dan banyak cerita mendebarkan lainnya yang tak pernah aku bayangkan.

            Iwak peyek iwak peyek sego jagung

            Sampe elek sampe tuwek

            Sampe matek mendukungmu 

 

Wis suwe aku ngenteni kowe

Rino wengi ora nyambut gawe

Persebaya kudu dimenangi

Arek bonek mendem rame-rame

Categories: Diary | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: