Adventure of Fulan Part 1

April 2012

Satu tahun yang lalu aku mencoba membuat cerita dongeng anak-anak. Ternyata lebih sulit dari yang kuduga. Selain mencoba mengatasi keengganan untuk menulis, writer’s block dan kedisiplinan untuk menyelesaikan cerita sampai akhir, aku juga kesulitan tentang isi ceritanya. Ada seorang penulis besar bilang kira-kira seperti ini, “Kalau hanya cocok dibaca untuk anak-anak, maka cerita itu gagal”. Maka kira-kira maksudnya: selain bisa dinikmati anak-anak, cerita itu setidaknya juga bisa dinikmati orang dewasa. Mungkin. Dan setelah berusaha keras, akhirnya jadi juga. Tak tahu ini cerita bagus atau tidak. Tapi… Ya sudahlah.

 

 ———————————————————————————

The Adventure of  Fulan

I

Stage I

Dahulu kala, saat  manusia dan hewan-hewan masih hidup berdampingan dan berbicara dalam bahasa yang sama dan hampir memiliki ukuran tubuh yang sama, tidak ada yang benar-benar tinggi, besar, kecil atau kerdil, Tersebutlah seorang pemuda bernama Fulan. Mulanya ia seorang pemuda dari keluarga kaya dan bahagia. Orangtuanya adalah saudagar dan pedagang yang sangat menyayangi Fulan. Cita-cita Fulan adalah suatu hari dapat menikahi Putri raja yang cantik. Namun suatu hari, bencana menerpa. Kapal yang ditumpangi orangtuanya saat berdagang sekaligus berlibur ke negeri tetangga karam diterjang badai. Tidak ada yang selamat. Fulan sangat sedih dengan kematian mereka. Harta peninggalan orangtuanya hanyalah rumah satu-satunya beserta isinya. Karena tak memiliki sanak keluarga satupun, ia memutuskan menjual rumahnya dan berkeliling berpetualang mewujudkan mimpinya. Satu-satunya yang tak ia jual adalah kalung medali bermotif ulat pemberian almarhum Ayahnya. Ayahnya bilang: ia mendapatkannya saat berdagang di sebuah negeri jauh.

            Petualangan dimulai. Hutan, Sungai, lembah dan gunung yang luas dan berliku dilaluinya tanpa mengeluh. Saat ia lelah dan lapar ia beristirahat dan mendirikan tenda serta mencari buah-buahan. Kalau dulu, segala makanannya disediakan oleh pelayan, sekarang ia harus mencari sendiri.

Tibalah ia di sebuah kota kumuh. Dan malang, disana ia dirampok oleh segerombolan kawanan Preman Kecoa. Fulan tak bisa berbuat apa-apa. Harta hasil penjualan rumahnya ikut dirampas. Untunglah kalung medali tidak ikut terambil. Dengan bermodalkan pakaian yang melekat di badan ia meneruskan perjalanannya. Sampailah ia di hutan. Ia lalu mencoba mencari buah-buahan yang bisa dimakan. Ketika ia mencoba mengambil buah di pohon, rantingnya patah dan ia terjatuh pingsan.

            Saat sadar ia ternyata telah berada di sebuah kamar. Fulan tak mengenal tempat itu dan merasa aneh karena dinding-dindingnya terbuat dari bahan yang tak ia ketahui. Sepertinya terbuat dari pasir padat. Saat ia melihat keluar, ternyata ia berada di semacam kastil. Fulan kemudian mengetahui kastil pasir itu milik Kerajaan Koloni Semut yang dipimpin oleh seorang Ratu. Disana ia lalu diberi makan dan ditanyai bagaiman nasibnya sampai terlantar pingsan di tengah hutan. Fulan meceritakan perjalanannya, Akhirnya Fulan memutuskan menetap di koloni Semut itu  setelah diijinkan tinggal oleh Sang Ratu. Ia sangat takjub dengan kastil itu yang terletak di tengah hutan, tinggi kokoh sehingga aman dari serangan makhluk liar dari luar. Kastil itu juga sangat luas dan memiliki ratusan ruangan yang hampir semuanya terhubung. Ada pula ruangan besar di mana mereka berkumpul bersama pada waktu-waktu tertentu. Fulan lalu belajar cara beternak, mengambil susu, menjahit, bertani, mengumpulkan makanan, dan bekerjasama membantu membangun dan memperbaiki kastil. Tapi hal yang paling disukainya adalah belajar memainkan senjata dan menjadi prajurit koloni sehingga dapat melindungi teman-temannya. Bila saling bertemu, mereka saling menggosokkan hidung dan menyapa. Kebiasaan yang mulanya aneh baginya. Fulan sangat kagum dengan para penghuni koloni yang sangat kuat dan perkasa, mereka mampu mengangkat beban yang beratnya berkali-kali tubuhnya. Hal yang tak bisa disamainya. Mereka juga sangat rajin bekerja dan tepat waktu. Dari anak manja sekarang ia belajar hidup mandiri dan disiplin. Para penghuni koloni sangat ramah dan baik hati padanya dan sudah dianggap seperti anggota keluarga sendiri. “Kita semua ciptaan Dewata maka kita semua keluarga. Bahkan kau tahu? Teman kita yang terbang dan membangun sarang di tempat tinggi, yaitu Tawon, kami adalah keturunan jauh leluhurnya” kata seekor semut ketika berbincang dengannya. Namun, meski senang bekerja keras dan rajin, keluarga para koloni semut memiliki kebiasaan buruk. Mereka sering membuang sampah sembarangan dan serakah dalam mengambil hasil hutan. Salah satu Tetua Semut sering memperingatkan para penghuni koloni agar tidak merusak hutan dan menebang secara liar karena dapat memancing kemarahan Dewata. Tapi ia tak dihiraukan dan hanya dianggap orang tua yang bawel.

Bila senja hari, Fulan sering berada di puncak kastil memandangi hutan dan memikirkan nasibnya kini. Dari putra saudagar kaya menjadi anggota koloni semut. Dari memiliki keluarga yang hanya beranggotakan 3 orang, sekarang ia malah memiliki anggota keluarga ribuan orang yang hidup harmonis, rapi dan setiap orang mematuhi peraturan-peraturan yang ada. Ia memegang kalung medalinya dan teringat orangtuanya. Ia sangat sedih, tapi kemudian ia bersyukur karena untuk pertama kalinya setelah ia meninggalkan rumah, Fulan merasa mendapatkan keluarga baru. Ia  lalu mulai melupakan impian awalnya.

            Namun, sekali lagi bencana menerpa. Pada suatu waktu, hujan deras turun berhari-hari tak kunjung berhenti. Guntur dan petir menyambar. Air sungai mulai meluap. Para penghuni koloni berusaha sekuat tenaga memperkokoh kastil mereka mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Tapi air sungai mulai tak kuat menampung air dan banjir besar datang. Banjir itu ikut serta membawa pepohonan dan kotoran serta sampah. Tanah perbukitan longsor. Kastil terendam banjir. Para semut banyak yang tewas dan hilang terseret banjir bandang. Sisanya mulai mengemasi barang dan mengungsi tak terkecuali Fulan. “Ini hukuman. Hukuman dari sang Dewata,” teriak seorang Tetua Semut diantara para semut yang panik. “Dewata memberikan banjir ini karena kita terlalu serakah dan tamak. Kita menebang pepohonan dan mengambil semuanya dari hutan tanpa berusaha menanam dan merawatnya kembali. Ini hukuman !. Sudah kukatakan pada kalian semua!!” teriaknya terakhir sebelum sosoknya menghilang terseret banjir. Semua yang mendengar dan menyaksikan itu terhenyak, terkejut dan hanya bisa menyesal.

                        Fulan juga ikut terseret dari banjir bandang tapi berhasil selamat dari  bandang setelah berpegangan pada sebatang pohon. Ia terdampar jauh dari kastil tapi masih hidup. Fulan sangat sedih dengan nasibnya dan terutama keluarga barunya. Ia tak mengenal daerah itu tapi ia memutuskan melanjutkan perjalanannya. Tanpa disadari Fulan, kalung medalinya yang bermotif ulat tiba-tiba berubah menjadi kepompong.

Stage 1 Ends, Stage 2 Begins

            Di tengah perjalanan ia bertemu seeekor Kuda Pengelana yang kakinya terjepit jebakan beruang. Fulan menolongnya dan membebat kakinya. Sang Kuda sangat berterimakasih. Mereka berkenalan dan segera menjadi teman seperjalanan yang sangat akrab. Kuda Pengelana menawarkan dirinya menemani Fulan berpetualang sebagai balas budi menolong hidupnya. Fulan gembira mendapatkan teman baru. Mereka melanjutkan perjalanan berdua dan kemudian sampai di sebuah kerajaan lain yang dipimpin seorang Raja Manusia bernama Martabumi.

            Alkisah, Baginda Martabumi waktu itu jatuh sakit. Tabib istana tidak berhasil menemukan obatnya. Putri Rania, anaknya sangat sedih melihat keadaan ayahandanaya. Suatu malam, Baginda Martabumi berkata kepada putrinya, “Rania, anakku, ayah bermimpi berada dipuncak gunung. Di puncak gunung itu ada sabana rumput, dan ditengahnya tumbuh taman bunga dengan beraneka ragam bunga yang indah. Namun, satu yang paling indah adalah bunga Anggrek yang sedang dihinggapi sebuah Kupu-kupu Raksasa. Kupu-kupu itu berwarna-warni sangat indah. Sedang Bunga Anggrek itu ajaibnya dapat berubah-ubah  warnanya. Berkilau indah sekali. Ketika kudekati, oh tiba-tiba saja Ayah terbangun. Aku sangat ingin memilikinya”. Menurut penasihat istana, mungkin inilah petunjuk dari Dewata bahwa bunga itulah satu-satunya bahan yang dapat mengobati sang Raja. “Bunga itu bernama Bunga Anggrek Air Mata Pelangi, Baginda. Sangat langka karena hanya tumbuh sekali dalam beberapa tahun dan ditempat tertentu. Bunga itu juga hanya berumur sehari. Dari perhitungan almanak saya berdasarkan terakhir kali bunga ini terlihat mekar, bunga itu memang akan tumbuh lima hari lagi. Mengenai tempat dalam mimpi Baginda, saya rasa itu adalah Bukit Lima Deretan yang letaknya cukup jauh dari sini. Kita harus bergerak cepat bila kita ingin mendapatkannya Baginda.”

Bersambung ke Part 2

Categories: Cerpen | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: