Tragedi Sandal Yang Tertukar

Ada sebuah anekdot kalau pergi shalat jumat ke masjid. Berangkat bawa sandal jepit, pulang bawa sandal bata. Iya, begitu parahnya kasus pencurian dan pertukaran illegal sandal gelap di masjid ini. Rupanya setelah menghadap Tuhan, tidak mencegah pihak-pihak yang terlibat untuk tidak melestarikan tradisi gelap ini. Aku juga sering mengalami. Berangkat bawa sandal jepit, pulang bawa Mercy. Mersikil. Nyeker telanjang kaki. Jadi sudah rahasia umum, kalau pergi ke masjid, nggak usah pake sandal bagus-bagus amat. Takut dicuri. Kalau pun memaksa, lihat gambar di bawah untuk tips efektif agar tidak kemalingan:

tips mengunci sandal

tips mengunci sandal

Dan beberapa hari yang lalu, tragedi lain pencurian sandal kembali terjadi. Padaku. Kali ini aku bukan sebagai korban, tapi pelaku. Iya pelaku.

Jadi gini, kemarin malam ada acara buka bersama ama temen-temen kampus. Secara di kontrakan aku hanya punya sandal jepit, aku pinjem deh sandal kulit ama temen satu kontrakan. Lalu aku berangkat. Buka bersama di sebuah rumah makan berjalan lancar. Lalu diselingi shalat maghrib di dekat mushalla yang disediain rumah makan tersebut. Dan disinilah kisah pertukaran illegal ini dimulai. Abiz shalat maghrib dan mau keluar, sifat pelupa akutku muncul. Aku lupa tadi sandal yang kupinjam dari temen kontrakan tadi kayak gimana. Dan di depan teras itu ada dua tipe sandal sepatu. Satu tipe slop, satunya tipe dijepit. Aku termenung dua menit lamanya. Bingung dan mencoba mengingat-ingat. “Tadi aku make sandal kayak apa, ya?”. Disamping kananku ada anak kecil berdiri ngeliatin melulu. Mungkin dia heran, apa yang dilakuin cowok cupu berkacamata lagi garuk-garuk kepala dan bertelanjang kaki berdiri di depan teras. Aku menyerah. Aku bener-bener lupa. Mengandalkan firasat untung-untungan, aku akhirnya ngambil sandal tipe yang dijepit. Aku lega. Lalu kembali ke meja makan. Kasus sepertinya telah selesai.
Pulangnya untuk memastikan, aku tanya ama temen kontrakan yang sandalnya kupinjam tadi.
“Ko, iki mau sandal sing tak silih yo?”
“Gatheli, duduk cik”. Ternyata bukan. Firasatku salah. Aku keliru ambil milik orang.

Kasus belum selesai. Aku membeku. Garuk-garuk kepala. Waktu berhenti. Dunia terasa runtuh. Oke, itu lebay.
Tapi perasaanku nggak keruan. Another silly action of me happened again. Crap. Sambil memegangi kepaala dengan kedua tangan, aku terus menrus bertanya dalam hati, ”Why, oh why?”.

Setidaknya ada dua korban dalam kasus ini:
Satu : temen kontrakanku, sandal kulitnya yang masih bagus harus direlakan pergi selamanya dihitung mulai bulan puasa tahun ini. Innalillahi. Sorry ya bro, aku nyesel banget.😦
Dua : pemilik sandal yang (tak sengaja) kuambil tadi. Pikirnya mungkin, “Ya Allah, kok yo cek kebacute. Poso-poso jek ono sing nyolong sandal” Ya Allah, kok ya tega. Puasa gini masih ada yang nyuri sandal. Is it devil not jailed?. Kemungkinan berkaitan dengan sandalnya yang hilang msterius, pemiliknya kalau tidak ngambil sandal yang tadi kupake yang harusnya milik temenku, ya memutuskan pulang nyeker jalan kaki. Kesian.😦. Aku lebih berharap pada kemungkinan pertama, setidaknya ada kesempatan dan harapan, sandal yang tertukar bisa kembali pulang.

So, untuk pemilik sandal di luar sana yang “kucuri”, from the bottom of my heart, I really really sorry. Saya sungguh merasa bodoh dan berdosa. -_____-

Oh ya lupa (!), omong-omong lokasi kejadian ini adalah di Rumah Makan Lesehan Joyo Taman Pinang Siodarjo pada Rabu maghrib 25 Juli 2012. Jadi, bila ada pihak-pihak yang mengetahui kejadian ini, tolong beritahu saya. Bukan hanya putri yang tertukar, tapi juga Ada sandal yang tertukar. Dia ada di rumah kontrakan kami. Kami berharap dia bisa kembali pulang ke miiliknya. Dan jika anda tak mengetahui apapun, sekedar klik and share catatan ini, mungkin sangat membantu. Siapa tahu informasi ini akan sampai pada sang pemilik sandal. Amin.

NB : Damn, I’m so ridiculous. Ada nggak sih obat buat nyembuhin sifat pelupa gini. Aku takut suatu hari nanti, pas udah nikah, 10-15 tahun kemudian sifat lupaku tambah parah dan waktu jalan-jalan ke luar aku malah nyasar ke Dolly. Ouw, itu bukan sifat pelupa ya. Maksudku, aku takut suatu hari nanti, aku pada akhirnya pikun, dan saat jalan-jalan keluar lupa jalan pulang. Lupa alamat rumah. Padahal di rumah, menunggu anak-anakku yang rupawan dan istri seksi yang…… ah sudahlah.

Categories: Diary | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: