Sebuah cerpen: Butterfly

Pada suatu hari Joe tengah dalam perjalanan pulang dari sekolahnya. Wajahnya masih kebiru-biruan dan menahan sakit setelah berkelahi dengan Sonny dan teman segengnya. Ketika sampai di Jembatan Greenmet, jalanan sepi dan ia hanya melihat beberapa meter darinya seorang wanita muda berdiri di pinggir pagar besi jembatan. Ia lalu menghampirinya.
Wajah Rosie penuh air mata dan ia sudah siap terjun dari pinggir Jembatan Greenmet itu ketika seseorang menyebut namanya. “Kau Rosie Rowland ‘kan?”. Ia lalu menoleh dan sedikit terkejut mendapati seseorang dengan wajah babak belur berdiri menatapnya penuh tanda tanya. “Jangan mendekat !” teriaknya.
“Kau mau bunuh diri, ya?” kata Joe nyengir tak menghiraukan teriakan Rosie.
“Y…yeah… dan jangan coba-coba mendekat atau mencegahku karena aku akan langsung lompat !” ancam Rosie.
“Ehmm.. OK..!” kata Joe sambil berjalan ke pagar besi jembatan untuk bersandar lalu merogoh sesuatu dari saku jaketnya. “Kau mau cokelat ?” tawar Joe santai.
“Apa…!”
“Aku tanya kau mau coklat tidak !?”
“Aku mau bunuh diri dan kau menawariku coklat….?”
“Baiklah kalau kau tak mau?”
“Kau ini sebenarnya siapa sih?” kata Rosie gusar. “Datang dengan wajah babak- belur lalu tiba-tiba menawariku coklat.. Dari planet mana kau ini ?”
“ Ah.. ya salahku .. Joe. Joe Dalton. Kelas 11-1, SMU Green Five. Planet Bumi. Salam kenal!” Joe mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan. “Kau Rosie Rowland dari kelas 11-3 ‘kan?”
“Ya. “ jawab Rosie tak memperdulikan uluran tangan Joe. “Dan jangan mengulurkan tangan sembarangan, aku ini mau bunuh diri, ingat ?”
“Oh ya… benar, maaf!” kata Joe sambil memakan coklat yang ditawarkannya. “Mm..Boleh aku tahu kenapa?”
Rosie diam saja. Joe menunggu. “Aku baru putus dari pacarku!” kata Rosie akhirnya.
Joe tergelak mendengar jawaban Rosie “Kau mau terjun dari jembatan hanya karena seorang pria?” Joe tertawa keras. “Lucu sekali…..”
“Apanya yang lucu?” teriak Rosie gusar.
“Ok…ok. aku tidak akan tertawa.” Joe mengangkat tangannya masih tergelak.
“Dan bukan itu saja..” kata Rosie tertunduk “Aku baru dikeluarkan dari tim cheerleader sekolah. Nilai-nilai sekolahku jelek. Dan orangtuaku baru saja bercerai!”. Air mata menetes dari pipi Rosie.
Joe memandangnya tertegun. Ia tak lagi tertawa.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Rosie terkejut karena tiba-tiba Joe naik pagar besi dan berdiri di pinggiran jembatan seperti dirinya.
“Mengikutimu !” jawab Joe santai.
“Apa ?”
“Wuu .. disini tinggi dan agak menakutkan juga ya…”
“Kau gila..!”
“Aku hanya berpikir..” Joe berkata. ”Kalau kau ingin bunuh diri hanya karena masalah sepele seperti itu. Seharusnya aku juga harus bunuh diri dari dulu.”
“Hah… .?”
“Kau tahu kenapa wajahku begini?.. Itu karena aku baru saja berkelahi dengan lima orang yang mencoba mengambil uangku. Dan mereka berhasil.” Ujar Joe kepada Rosie. “Jumlah uangnya tigaratus ribu. Uang itu hasil jerih payahku bekerja sampingan dan hendak kubayarkan untuk melunasi tunggakan iuran sekolahku. Tiap hari Sonny dan teman segengnya selalu menjahiliku.. merampas makan siangku… menaruh lem di bangkuku.. melempar tasku ke selokan .. semuanya ..dan asal kau tahu saja ini rahasia .. nilai matematika dan IPA-ku paling buruk di kelas dan mungkin terburuk di sekolah.. guru-guru tak begitu mempedulikan aku, kepala sekolah mengancam akan mengeluarkan aku bila uang sekolah tak segera kulunasi. Ya..inilah aku.. seorang pecundang”
Rosie terdiam dan air mata berhenti menetes dari pipinya.
“Kau pikir itu saja masalahku? Tidak ! kau tahu.. kakakku baru kemarin mendekam di penjara karena menjadi bandar narkoba untuk membiayai hidup kami. Ayahku sudah meninggal sejak aku berumur lima tahun. Ibuku meninggal tiga bulan yang lalu karena kanker dengan meninggalkan hutang lima juta pada rentenir, yang lalu dibebankan padaku dan kakakku. Dan karana kakakku ada di penjara, utang itu menjadi tanggung jawabku. Sudah dua bulan aku tidak sekolah agar aku bisa bekerja.. Itu saja. Karena itulah mengapa kukatakan seharusnya aku bunuh diri. Kau mengerti ?”
Rosie hanya terpana mendengar cerita Joe.
Mereka terdiam beberapa lama. Joe menatap kosong sungai dibawahnya yang mengalir tenang dan Rosie memikirkan cerita Joe.
Jikasaja saat ini ada seseorang lewat dan melihat mereka, orang itu pasti akan heran : dua orang berdiri diam dibalik pagar jembatan., yang wanita wajahnya penuh air mata dan yang pria wajahnya babak belur. Sungguh pemandangan yang aneh. Begitu pasti orang itu berpikir.
Saat itu seekor kupu-kupu terbang dan hinggap di pagar besi disamping Joe dan Rosie. Joe lalu menangkapnya dengan satu tangan sambil tetap berpegangan erat pada pagar besi.
“Kau tahu mengapa kupu-kupu begitu indah warnanya ?” tanya Joe akhirnya dan mengagetkan lamunan Rosie.
“A..apa .. aku tak tahu… “.
“Well… Sungguh menakjubkan bila kita pikir dulu ia adalah ulat yang orang lain pun jijik melihatnya ‘kan.” kata Joe sambil memandangi kupu-kupu yang ditangkapnya
“Ehmm..” kata Rosie memandangi kupu –kupu itu..”Ehm ..Joe.. mengapa kau menceritakan semua ini padaku ..memang kita satu sekolah tapi kita bahkan tak pernah berbicara satu sama lain.. kau tahu.”
Joe diam sebentar. Lalu ia berkata : “Aku ingin menjadi koki”
“A..apa? Maaf..Ko..koki.?”
“Ya..koki…Lucu, heh? Itu mungkin kelihatan lucu bagi sebagian besar orang. Tapi bagiku tidak. Sejak kecil aku suka membantu ibuku memasak, dan sejak umur enam tahun akulah koki keluarga karena ibu sering sakit-sakitan. Aku senang menjalaninya. Ibuku pernah berkata, carilah sesuatu yang kau sukai, kembangkan itu menjadi pekerjaan, karena hal kecil itu akan menjadi besar nantinya. Suatu hari nanti aku ingin memiliki restoran sendiri, dengan banyak anah buah membantuku melayani pesanan. Aku rasa itu bukan suatu hal yang lucu.”
“Itu memang bukan hal yang lucu,” kata Rosie “Itu…. impian yang besar… kurasa..”
Joe tersenyum. “Kau sendiri ingin jadi apa?“ tanyanya pada Rosie.
“Eh.. aku.. er..aku tak tahu…” kata Rosie. “Setiap hari yang kulakukan hanya latihan untuk cheerleader dan kencan dengan kapten basket tim sekolah…tapi..”
“Tapi apa?”
Rosie memikirkan hobi kecil-kecilan yang sering dilakukannya saat ia suntuk. “Aku rasa aku ingin jadi desainer. Hal selain melompat dan menari yang aku sukai hanyalah memotong-motong kain dan menggambar sketsa.”
Joe tersenyum simpul mendengar pilihan kata yang digunakan Rosie. “Itu juga impian yang besar aku rasa.” kata Joe sambil melepas kupu-kupu yang ditangkapnya yang langsung terbang menjauh. ”Hei …paling tidak ambil sisi positifnya… dengan sekarang kau tak aktif lagi sebagai cheerleader sekolah dan berpacaran dengan si brengsek itu kau bisa berkonsentrasi memotong-memotong kain dan menggambar tak keruan..” Joe nyengir.
Rosie tersenyum.
“Dan impianmu bisa kau capai jika kau tak bunuh diri ‘kan?”
“Hoh… jadi begini cara kau mencegahku bunuh diri?”
“Tidak .. aku serius. Seperti kupu-kupu tadi kau tahu ?”
“Apanya?”
“Kupu-kupu.. Ia memiliki begitu banyak warna indah yang mempesona, riang dan romantis. Sungguh tak bisa dibayangkan dulu ia adalah hewan yang menjijikan. Aku rasa semua masalah ini adalah ujian. Seperti ulat yang selalu dibenci. Ia lalu bertapa dalam tirai kepompong yang bagai ilusi. Begitu lama ia menjalaninya karena yakin akan bermetamorfosa menjadi sesuatu yang akan dipuja semua orang. Semua yang kita lalui dalam hidup ini aku rasa adalah ujian kepompong yang nantinya membuat kita lebih kuat, lebih hebat dan lebih indah, menjadi seperti kupu-kupu bersayap emas, yang siap mengepakkan sayapnya menuju angkasa. Menebarkan segala keindahannya ke segala penjuru.” Ucap Joe sambil memandang keatas tempat kupu-kupu itu beterbangan.
Rosie terdiam mendengar ucapan Joe.
“Jadi sepertinya aku tidak akan bunuh diri“. Ia melompati pagar besi naik kembali ke Jembatan Greenmet. “Aku takkan bisa punya restoran mewah jika aku mati sekarang ‘kan?. Kau ?”
“Aku..”
“Ya… sambil mendekati Rosie. ”Maksudku adalah… ini bukan soal aku akan jadi koki atau tidak Tapi ini soal pembuktian diri.. akan kubuktikan pada semua orang bahwa kisah ulat menjadi kupu-kupu juga akan terjadi pada diriku dan bukan dongeng belaka. Kau juga bisa kan?“ ujarnya. “Apa yang terjadi biarlah…yang bisa kta lakukan sekarang hanya berusaha sekuat tenaga mencari jalan keluar dan memperbaikinya .. Masalah apapun hadapi saja dengan senyuman.”
Rosie tercenung.
“Satu pertanyaan buatmu dan aku berjanji tidak akan mengganggumu bila kau ingin bunuh diri lagi”
“Apa?”
“Tidakkah kau ingin jadi kupu-kupu ?” tanya Joe sambil mengulurkan tangannya untuk menarik Rosie.
Rosie terdiam sejenak menatap Joe yang mengulurkan tangannya dan memandangnya lekat-lekat. Ada sesuatu dikedalaman mata Joe, dibalik wajahnya yang tak keruan tersembunyi keyakinan dan tekad yang kuat dan membuat Rosie percaya. Percaya Joe dan bahkan dirinya bisa melakukan seseuatu. Bahkan melampauinya. “Ya.. aku mau” katanya dan menangkap uluran tangan Joe. Joe tersenyum senang dan membantu Rosie naik ke jembatan. Rosie mengusap bekas air mata dipipinya dan merapikan rambutnya yang acak-acakan. “Aku baru sadar…” kata Joe tiba-tiba. “Ternyata kau mempunyai mata yang sangat indah.” Pipi Rosie bersemu merah. “Trims!” katanya tersenyum. “Baiklah sekarang ayo kita pulang!” kata Joe. “Omong-omong, dimana rumahmu?”. Mereka lalu berjalan pulang karena ternyata mereka searah.
“ Kau yakin tidak mau coklat? Aku masih punya satu, nih!”

Dalam perjalanan Joe dan Rosie bercakap-cakap dan perjalanan itu berlangsung menyenangkan, dengan sejumlah gelak tawa dan obrolan ringan, kemudian mereka berpisah dan pulang. Joe berhasil meminjam uang dari bosnya di restoran tempat ia bekerja sampingan untuk menggantikan uang yang diambil Sonny dan teman segengnya. Sedangkan Rosie memfokuskan diri untuk melupakan mantan pacarnya dan berkonsentrasi pada pelajaran dan hobi desainnya. Joe da Rosie kemudian sering bertemu di seputar sekolah, dan menjadi akrab dengan banyak keheranan dari teman-temannya. Mantan kapten cheerleader berteman dengan pecundang sekolah.
Mereka lulus SMA dimana mereka menjalin kontak yang singkat bertahun-tahun. Rosie melanjutkan ke sekolah desain dan Joe akhirnya berhasil mendapat pekerjaan sebagai pembantu koki di sebuah hotel berbintang lima, sebagai jalan setahap untuk mencapai impian mereka berdua.

Beberapa tahun kemudian mereka bertemu lagi di jembatan untuk mengingat suatu hari bertahun-tahun yang lalu tatkala mereka pertama kali bercakap-cakap. “Kau tahu, Joe.” Rosie berkata kepada Joe yang menggunakan bahunya sebagai sandaran kepala Rosie. “Saat kau pertama kali menyapaku di jembatan ini aku senang sekali. Saat itu aku sungguh kesepian, orang-orang yang selama ini kuanggap teman ternyata tidak menghiraukanku saat aku kesulitan, ayah dan ibuku tiap hari bertengkar, dan tak ada seorangpun yang kukenal mau membantuku. Aku sungguh kesepian. Aku tidak siap untuk itu dan rasanya ingin bunuh diri. Tetapi setelah kita bertemu, memberitahu impianmu, serta melewatkan waktu bersama dengan bercakap-cakap dan tertawa serta mengejar impian bersama-sama, seandainya aku bunuh diri aku pasti akan kehilangan saat-saat seperti itu dan begitu banyak hal bahagia muncul sesudahnya. Jadi kamu tahu, saat kamu menyapaku di jembatan ini, kamu sebetulnya melakukan lebih banyak. Kamu menyelamatkan hidupku dan juga nyawaku.” Joe hanya tersenyum dan mencium tangan Rosie dimana di jari kelingking Rosie tersemat cincin yang sama yang dipakai Joe di jarinya. “Dengan kehadiranmu selama ini disisiku, kau pun sebenarnya secara tak langsung menyelamatkan nyawaku juga, Sayang!”

Categories: Cerpen | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: